Rujukan desain rumah minimalis dan kolam renang keluarga cerdas

SURGA DI TELAPAK KAKI IBU, MAKA HENDAK KEMANA ENGKAU MENCARI ?

SURGA DI TELAPAK KAKI IBU, MAKA HENDAK KEMANA ENGKAU MENCARI #rumahkusurgaku - diminimalis.com
SURGA DI TELAPAK KAKI IBU, MAKA HENDAK KEMANA ENGKAU MENCARI #rumahkusurgaku - diminimalis.com
SURGA DI TELAPAK KAKI IBU, MAKA HENDAK KEMANA ENGKAU MENCARI #rumahkusurgaku – diminimalis.com

Surga di telapak kaki ibu, ujaran ini begitu sering kita dengar. Dikisahkan dalam sebuah riwayat,

Datang seseorang menghadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam seraya meminta izin untuk ikut andil berjihad bersama beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bertanya,

“Apakah engkau masih mempunyai ibu?”
Orang itu menjawab, ‘Ya, masih’.
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِلْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ أَقْدَاِمهَا
“Jagalah ia, karena surga itu ada di bawah telapak kakinya.”

(Al-Jami’ Ash Shaghir wa Ziyadatuhu nomor 2129 dan Shahih Al Jami’ nomor 1249, dari Muawiyah ibn Jahimah diriwayatkan Ahmad, Nasa`i, Thabrani dan lainnya.)

Kisah di atas terjadi dalam kondisi jihad ofensif (memerangi) yang hukumnya fardhu kifayah (salah satu harus ada yang wajib mengerjakan). Allah sangat mencintai berjihad di jalan-Nya, dan jihad merupakan amal utama yang berpahala besar. Apalagi jihad tersebut dikerjakan langsung di bawah manusia paling mulia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ternyata ada amal lain yang harus ditunaikan oleh Muawwiyah As Sulami. Sebuah amal yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu berbakti kepada orang tua.

Inilah sisi luar biasa seorang ibu. Sebuah kenyataan yang mau tidak mau harus diakui oleh seorang anak untuk memaksa dirinya berbakti kepada ibunya dengan sungguh-sungguh. Jika anak mengharapkan surga, maka ia dapat meraihnya dengan berbakti kepada ibunya, insya Allah.

Surga di telapak kaki ibu, namun banyak anak yang lupa

Sayangnya, banyak di antara kaum muslimin yang melupakan orang tuanya, khususnya sang ibu. Hanya karena alasan tinggal atau bekerja di luar kota, sibuk dan berbagai macam argumen lainnya menjadikan ia tak lagi mau mempedulikan bagaimana keadaan orang tua. Padahal, dalam kesendirian orang tua di rumah, ia menyimpan rasa rindu yang mendalam di hatinya.

Seringkali anak hanya mengunjunginya setahun sekali, sekedar menyempatkan momen silaturahim di hari raya Idul Fitri. Bahkan tak jarang dengan alasan macet atau tidak ada waktu, mereka enggan mengunjungi ibunya meski dalam momen tahunan tersebut. Hati orang tua mana yang tak akan sedih bila di saat yang seharusnya ia bisa berkumpul bersama anaknya untuk bergembira, namun ia hanya sendiri di rumah.

Orang tua kita, ibu kita, adalah surga di rumah kita. Namun banyak manusia yang melupakan hal ini. Ketika orang tuanya masih hidup, mereka menyia-nyiakan keberadaannya. Saat mereka meninggal, barulah mereka merasa kehilangan dan berharap agar waktu bisa diulang untuk dapat menunaikan bakti anak kepada orang tua. Sayang, penyesalan itu telah terlambat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.”

Ada yang bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,

“(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”

(HR. Muslim).

menyia-nyiakan kesempatan berbhakti #rumahkusurgaku - diminimalis.com
menyia-nyiakan kesempatan berbhakti #rumahkusurgaku – diminimalis.com

Berbakti kepada orang tua merupakan kesempatan paling baik bagi kita untuk mendapat pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jalan dimudahkannya menuju ke surga. Karena itu, sungguh rugi seorang anak yang menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya, dan dengan sebab itu ia tidak masuk surga.

Adakah sosok ibu di rumah kita? Jika ia masih hidup, maka pulanglah. Jemputlah surgamu di rumahmu dengan cara berbakti kepadanya. Buatlah ibu kita tertawa sebagaimana kita telah membuat ia menangis. Jadikanlah masa tuanya di rumah sebagai masa terindah dalam hidupnya, karena ada kita –anak yang ia cintai— di sisinya. (aa)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.